Kumpulan mahasiswa melakukan demonstrasi menolak Omnimbus Law Cipta Kerja di depan DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (10/10/2020).
Foto: Agusanty Wangsir

 

Jumat (09/10/2020), ratusan mahasiwa melakukan demonstrasi di depan Gedung DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk menyuarakan penolakan mereka terhadap RUU Omnibus Law Cipta Kerja. Aksi ini dikawal ketat oleh aparat yang terdiri dari anggota kepolisian (POLDA, POLRES kota Kupang, Brimob) sebagai garda terdepan, serta anggota Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Aksi demo yang awalnya berlangsung kondusif, akhirnya ricuh antara pendemo dengan pihak keamanan. Pendemo melakukan tindakan-tindakan anarkistis dengan membakar ban dan melempar batu. Kericuhan ini disebabkan oleh keinginan pendemo untuk masuk ke dalam gedung dewan yang tidak diijinkan.

Setelah kurang lebih sepuluh menit ricuh, upaya negosiasi dilakukan dengan menghadirkan Emelia Julia Nomleni selaku Ketua DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur, Inche D. P. Sayuna selaku Wakil Ketua dan Ina Kolin selaku Anggota Komisi V DPRD, namun upaya ini tidak berhasil. Pendemo tetap meminta agar bisa masuk ke gedung dewan.

Akibat dari kericuhan ini, Jalan El Tari sempat ditutup oleh pihak keamanan.**LD